Etika Makan (Table Manner) Unik di Berbagai Belahan Dunia
blckpress.org – Pernahkah Anda membayangkan situasi ini: Anda diundang makan malam oleh kolega di Beijing. Karena merasa makanannya sangat lezat dan ingin menghargai tuan rumah, Anda melahap habis semua hidangan di piring hingga bersih mengkilap. Namun, alih-alih senang, tuan rumah justru tampak gelisah dan buru-buru menambahkan porsi lagi ke piring Anda. Anda kenyang, dia bingung. Awkward, bukan? Ternyata, niat baik Anda disalahartikan sebagai kode bahwa makanan yang disajikan kurang.
Makanan adalah bahasa universal, tetapi tata krama memakannya memiliki dialek yang sangat berbeda-beda. Apa yang dianggap sopan di Jakarta bisa dianggap penghinaan di Roma. When you think about it, etika makan bukan sekadar aturan kaku, melainkan cerminan sejarah, nilai, dan kebersihan suatu bangsa. Bagi para pelancong atau profesional yang sering berinteraksi dengan orang asing, memahami nuansa ini adalah skill bertahan hidup yang krusial.
Artikel ini akan mengajak Anda berkeliling dunia, bukan untuk mencicipi rasanya, tapi untuk memahami aturan mainnya. Kita akan membedah Etika Makan (Table Manner) Unik di Berbagai Belahan Dunia agar Anda tidak mati gaya—atau lebih parah, dianggap kasar—saat jamuan makan internasional berikutnya. Siapkan serbet Anda, mari kita mulai!
Jepang: Silakan Menyeruput dengan Keras
Jika di Indonesia atau negara Barat menyeruput sup atau mi dianggap tidak sopan karena berisik, di Jepang justru sebaliknya. Saat menyantap ramen atau soba, mengeluarkan suara “slurp” adalah pujian tertinggi bagi sang koki.
Fakta: Suara menyeruput (slurping) dipercaya dapat meningkatkan cita rasa mi dan membantu mendinginkan mi yang masih panas saat masuk ke mulut. Insight: Namun, hati-hati! Aturan ini hanya berlaku untuk mi dan sup. Jangan coba-coba menyeruput nasi atau lauk lainnya. Imagine you’re di kedai ramen Tokyo, jangan malu untuk bersuara. Tapi ingat, jangan sampai memercikkan kuah ke baju tetangga sebelah.
China: Sisakan Sedikit Makanan di Piring
Ini adalah jawaban dari skenario di paragraf pembuka tadi. Dalam budaya Tiongkok tradisional, menyisakan sedikit makanan di piring adalah tanda bahwa Anda sudah sangat kenyang dan tuan rumah telah memberikan makanan yang berlimpah (lebih dari cukup).
Analisis: Jika Anda membersihkan piring (“Clean Plate Club”), tuan rumah akan berpikir bahwa porsi yang mereka berikan terlalu sedikit dan Anda masih lapar. Ini bisa membuat mereka merasa gagal dalam menjamu tamu (atau “kehilangan muka”). Tips: Makanlah dengan nikmat, tapi sisakan satu atau dua suap terakhir. Ini adalah kode non-verbal yang elegan untuk mengatakan, “Terima kasih, saya sangat puas dan kenyang.”
Italia: Jangan Minta Keju Tambahan untuk Seafood
Orang Italia sangat serius, bahkan religius, soal makanan mereka. Salah satu dosa besar dalam kuliner Italia adalah menaburkan keju parmesan di atas pasta yang mengandung seafood (seperti Spaghetti alle Vongole).
Kenapa? Rasa keju yang kuat dianggap akan menutupi rasa seafood yang lembut dan segar. Bagi koki Italia, meminta parmesan tambahan di hidangan laut sama saja dengan menghina racikan bumbu mereka. Insight: Kecuali ditawarkan, jangan pernah meminta keju ekstra, saus tomat, atau (amit-amit) nanas di atas pizza saat berada di Italia. Nikmatilah makanan sebagaimana koki menyajikannya. Percayalah pada ahli lokal.
Thailand: Garpu Bukan untuk Masuk Mulut
Di Thailand, sendok dan garpu adalah pasangan tak terpisahkan, tetapi peran mereka sangat spesifik. Garpu di tangan kiri hanya bertugas untuk mendorong makanan ke sendok di tangan kanan. Sendoklah yang masuk ke mulut, bukan garpu.
Sejarah: Alat makan Barat diperkenalkan oleh Raja Rama IV dan V. Namun, masyarakat Thailand mengadaptasinya sesuai dengan budaya makan nasi mereka yang lengket, di mana sendok lebih efisien daripada garpu. Tips: Memasukkan garpu yang penuh nasi ke dalam mulut dianggap perilaku kelas bawah atau tidak tahu sopan santun. Gunakan garpu hanya sebagai “asisten” sendok.
Timur Tengah dan India: Tangan Kanan adalah Raja
Di banyak negara Timur Tengah dan India, makan langsung menggunakan tangan adalah tradisi yang mendarah daging. Namun, ada aturan emas yang tak boleh dilanggar: Gunakan hanya tangan kanan.
Konteks Budaya: Tangan kiri secara tradisional diasosiasikan dengan aktivitas kebersihan diri di kamar mandi (sebelum adanya tisu toilet modern). Oleh karena itu, tangan kiri dianggap “najis” atau kotor untuk menyentuh makanan, bersalaman, atau memberikan sesuatu. Saran: Even if you are left-handed (kidal), usahakan untuk makan dengan tangan kanan. Jika sangat sulit, gunakan sendok dan garpu. Jika terpaksa menggunakan tangan kiri, sampaikan permohonan maaf sebelumnya, meskipun di lingkungan tradisional hal ini mungkin tetap dipandang aneh.
Korea Selatan: Hormati yang Lebih Tua
Budaya Konfusianisme sangat kental di Korea Selatan, dan ini tercermin jelas di meja makan. Tidak ada yang boleh mengangkat sendok atau sumpit sebelum orang tertua di meja mulai makan.
Etika: Selain menunggu orang tua makan duluan, Anda juga tidak boleh meninggalkan meja makan sebelum mereka selesai. Jika Anda selesai lebih dulu, letakkan alat makan di atas mangkuk nasi dan tunggu dengan sabar. Jab Halus: Jadi, bagi Anda yang punya kebiasaan langsung menyambar lauk begitu tersaji karena kelaparan, tahan diri Anda saat di Seoul. Kesabaran Anda adalah bentuk respek.
Chili: “Hands Off” Segala Makanan
Jika di India kita wajib pakai tangan, di Chili justru sebaliknya. Budaya makan di sana sangat “Eropa”, bahkan sedikit lebih kaku. Menyentuh makanan dengan tangan dianggap tidak sopan.
Fakta Unik: Aturan ini bahkan berlaku untuk makanan yang di negara lain lazim dimakan dengan tangan, seperti kentang goreng (french fries) atau bahkan paha ayam goreng. Insight: Selalu gunakan pisau dan garpu. Imagine you’re makan kentang goreng di restoran cepat saji di Santiago, lihat sekeliling dulu. Jika semua orang menggunakan garpu, jangan jadi satu-satunya orang yang mencocol kentang dengan jari.
Kesimpulan
Pada akhirnya, makanan memang menyatukan kita, tetapi Etika Makan (Table Manner) Unik di Berbagai Belahan Dunia adalah pengingat bahwa keragaman budaya itu nyata dan indah. Apa yang kita anggap “normal” hanyalah konstruksi kebiasaan kita sehari-hari.
Menghormati tata krama makan setempat bukan berarti Anda harus mengubah jati diri, melainkan menunjukkan empati dan penghargaan terhadap budaya tuan rumah. Jadi, saat perjalanan bisnis atau liburan berikutnya, lakukan riset kecil tentang etika makan di sana. Siapa tahu, satu suapan yang benar bisa menjadi awal dari kesepakatan bisnis besar atau persahabatan seumur hidup.